Tuesday, August 25, 2009

Ramadhan Yang Diharapkan


aku berlindung denganMu dari syaitan yang direjam
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah Lagi maha Penyayang

yaAllah sesungguhnya aku mengharapkan ramadhan kali ini penuh makna,
agar dapat kulalui dengan penuh kesempurnaan didalamnya,
setiap langkah kehidupanku dalam bulam Ramadhan ni biarlah kearah kebaikan.
kearah mencari segala menikmatan berbuat kebaikan,
ku tidak ingin ia menjadi seperti ramadhan yang lalu,
kerna aku sgt lalai terhadap dunia yg penuh dgn tipu daya,
tidak aku manfaatkn ramadhan yg lepas dgn sebaik mungkin,
sesungguhnya aku manusia yg sgt tidak ada Tuhan dalamnya,
jahilnya aku, bangangnya aku, bodohnya aku, kerna gagal dlm kehidupan ini,
mudah-mudahan membawa erti ramadhan kali ini, membawa kenikmatan yg sebenar,
sesungguhnya hidayahMu, taufiqMu agar dpt kuterus dgn memperjuangkn hatiku utkMu,
kekuatanMu yaAllah berilah sedikit pada ku agar dapat beramal dgn penuh keikhlasan,
sempena ramadhan ini jdkn aku insan yang sentiasa menanamkandalam diri rasa bertuhan,
rasa dimiliki, rasa segala isi alam ini ciptaanMu, rasa hamba, rasa cinta akan penciptaku, rasa takut akan apa yg aku cintai,
aku tidak ingin mengorbankan jiwaku dengan kelalaian yaAllah,
sgt takut aku akan seksa kuburmu yg mana ditinggalkn keseorangan,
diseksa, dipukul, dihancurkn, tanpa ada belas kasihan,
jadikan aku antara orang yg terus mencari redhoMu,
pemergianmu ramadhan akn ku tangisi, jika aku terus tidak mengenal erti keindahan ramadhan, kenikmatan, kelebihan,

Monday, August 10, 2009

Mutiara Kata Luqman Al-Hakim


Berkatalah Luqman mengajar anaknya ilmu yang datang dari sisi Tuhan Yang Maha Mengetahui:

“Hai anak-anakku, janganlah engkau sekali-kali mempersekutukan Tuhanmu dengan apa sekalipun, kerana mempersekutukan Allah satu kezaliman yang sangat besar, dan bersyukurlah kepada Tuhanmu kerana kurniaan-Nya. Orang yang mulia tidak mengingkari Penciptanya kecuali orang yang kufur.

“Apakah tidak engkau perhatikan, apa yang Allah bentangkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan di bumi daripada kebaikan yang amat banyak?

“Maka engkau menikmati kehidupan ini lantaran kurniaan-Nya, penuh keamanan, keimanan dan kebaikan yang melimpah ruah, di taman dunia yang subur mekar dengan bunga-bungaan serta tumbuhan yang berseri-seri.

“Jangan engkau berlaku derhaka terhadap ibu dan ayahmu dengan apa jua sekalipun, melainkan apabila mereka menyuruhmu derhaka kepada Yang Maha Berkuasa, maka Allah mewasiatkan dirimu; berbuat baiklah dengan mereka. Justeru, jangan engkau mengherdik mereka dengan perkataan mahupun perbuatan dibenci.

“Hai anakku! Andainya ada sebutir biji sawi terpendam di dalam batu, pasti ketahuan jua oleh Tuhanmu Yang Maha Melihat, Allah Amat Mengetahui segala sesuatu, zahir mahupun batin atau apa yang engkau sembunyikan di dalam dadamu.

“Dia memerhatikan dirimu dalam kepekatan malam, semasa engkau bersolat atau tidur lena di belakang tabir di dalam istana. Dirikan solat dan jangan engkau berasa ragu untuk melakukan perkara makruh, dan melempar jauh segala kejahatan dan kekejian.

“Dan bersabarlah di atas apa yang menimpa dirimu kerana yang demikian itu menuntut kepastian kukuh daripadamu dalam setiap kejadian dan urusan.

“Jangan engkau berjalan sombong serta takbur, Allah tidak meredai orang yang sombong dan takbur.”

Wednesday, August 5, 2009

Tata Tertib Ketika Membaca KItab Allah



Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang memiliki kedudukan tersendiri di hati setiap Muslim. Ia merupakan kalamullah dan sebagai sumber hukum pertama bagi umat Islam.

Sebagai sebuah kitab suci yang memiliki keistimewaan, tentu patutlah bagi seorang Muslim untuk memuliakan dan menghormatinya, termasuk dalam sikap kita ketika ingin membacanya.
Nah, apakah adab-adabnya? Silahkan menyimak!!

Banyak sekali adab-adab yang harus diperhatikan ketika membaca al-Qur’an, di antaranya:

1. Ikhlash atau menuluskan niat karena Allah semata. Ini merupakan adab yang paling penting di mana suatu amal selalu terkait dengan niat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya semua amalan itu tergantung niat-niatnya dan setiap orang tergantung pada apa yang diniatkannya…” (HR.al-Bukhari, kitab Bad’ul Wahyi, Jld.I, hal.9)

Karena itu, wajib mengikhlashkan niat dan memperbaiki tujuan serta menjadikan hafalan dan perhatian terhadap al-Qur’an demi-Nya, menggapai surga-Nya dan mendapat ridla-Nya.

Siapa saja yang menghafal al-Qur’an atau membacanya karena riya’, maka ia tidak akan mendapatkan pahala apa-apa.
Nabi SAW bersabda, “Tiga orang yang pertama kali menjalani penyidangan pada hari Kiamat nanti…[Rasulullah SAW kemudian menyebutkan di antaranya]…dan seorang laki-laki yang belajar ilmu lalu mengajarkannya, membaca al-Qur’an lalu ia dibawa menghadap, lalu Allah mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, maka ia pun mengetahuinya, lalu Dia SWT berkata, ‘Untuk apa kamu amalkan itu.?” Ia menjawab, ‘Aku belajar ilmu untuk-Mu, mengajarkannya dan membaca al-Qur’an.’ Lalu Allah berkata, ‘Kamu telah berbohong akan tetapi hal itu karena ingin dikatakan, ‘ia seorang Qari (pembaca ayat al-Qur’an).’ Dan memang ia dikatakan demikian. Kemudian ia dibawa lalu wajahnya ditarik hingga dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR.Muslim, Jld.VI, hal.47)

Manakala seorang Muslim menghafal dan membaca al-Qur’an semata karena mengharapkan keridlaan Allah, maka ia akan merasakan kebahagian yang tidak dapat ditandingi oleh kebahagiaan apa pun di dunia.

2. Menghadirkan hati (konsentrasi penuh) ketika membaca dan berupaya menghalau bisikan-bisikan syetan dan kata hati, tidak sibuk dengan memain-mainkan tangan, menoleh ke kanan dan ke kiri dan menyibukkan pandangan dengan selain al-Qur’an.

3. Mentadabburi (merenungi) dan memahami apa yang dibaca, merasakan bahwa setiap pesan di dalam al-Qur’an itu ditujukan kepadanya dan merenungi makna-makna Asma Allah dan sifat-Nya.

4. Tersentuh dengan bacaan. Imam as-Suyuthi RAH berkata, “Dianjurkan menangis ketika membaca al-Qur’an dan berupaya untuk menangis bagi yang tidak mampu (melakukan yang pertama-red.,), merasa sedih dan khusyu’.” (al-Itqan, Jld.I, hal.302)

5. Bersuci. Maksudnya dari hadats besar, yaitu jinabah dan haidh atau nifas bagi wanita.
Al-Qur’an merupakan zikir paling utama. Ia adalah kalam Rabb Ta’ala. Karena itu, di antara adab membacanya, si pembaca harus suci dari hadats besar dan kecil. Ia dianjurkan untuk berwudhu sebelum membaca. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (Shahih al-Jaami’, no.7657)

Perlu diketahui, bahwa seseorang boleh membaca al-Qur’an asalkan tidak sedang berhadats besar, demikian pula disunnahkan baginya untuk mencuci mulut (menggosok gigi-red.,) dengan siwak sebab ia membersihkan mulut sedangkan mulut merupakan ‘jalan’ al-Qur’an.

6. Sebaiknya, ketika membaca al-Qur’an, menghadap Qiblat sebab ia merupakan arah yang paling mulia, apalagi sedang berada di masjid atau di rumah. Tetapi bila tidak memungkinkan, baik karena ia berada di kios, mobil atau sedang bekerja, maka tidak apa membaca al-Qur’an sakali pun tidak menghadap Qiblat.

7. Disunnahkan bagi seseorang untuk ber-ta’awwudz (berlindung) kepada Allah dari syaithan yang terkutuk. Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila kamu membaca al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” (an-Nahl:98)

8. Memperindah suaranya ketika membaca al-Qur’an sedapat mungkin. Rasulullah SAW bersabda, “Hiasilah al-Qur’an dengan suara-suara kamu sebab suara yang bagus membuatnya bertambah bagus.” (dinilai shahih oleh al-Albani, Shahih al-Jaami’, no.358)

“Disunnahkan memperbagus dan menghiasi suara dengan al-Qur’an… Terdapat banyak hadits yang shahih mengenai hal itu. Jika seseorang suaranya tidak bagus, maka ia boleh memperbagus semampunya asalkan jangan keluar hingga seperti karet (dilakukan secara tidak semestinya dan menyalahi kaidah tajwid-red.,).” (al-Itqaan, Jld.I, hal.302)

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak bersenandung dengan al-Qur’an (melantunkannya dengan bagus).” (Shahih al-Bukhari, Jld.XIII, hal.501, bab at-Tauhid, no.7527)
Hendaknya pembaca al-Qur’an membaca sesuai dengan karakternya, tidak menyusah-nyusahkan diri (dibuat-buat) dengan cara menaklid salah seorang Qari atau dengan intonasi-intonasi tertentu sebab hal itu dapat menyibukkan dirinya dari mentadabburi dan memahaminya serta menjadikan seluruh keinginannya hanya pada mengikuti orang lain (taqlid) saja.

9. Membaca dengan menggunakan mushaf. Hal ini dikatakan oleh as-Suyuthi, “Membaca dengan menggunakan mushaf lebih baik dari pada membaca dari hafalan sebab melihatnya merupakan suatu ibadah yang dituntut.” (al-Itqaan, Jld.I, hal.304)

Hanya saja, Imam an-Nawawi dalam hal ini melihat dari aspek kekhusyu’an; bila membaca dengan menggunakan mushaf dapat menambah kekhusyu’an si pembaca, maka itu lebih baik. Demikian pula, bila bagi seseorang yang tingkat kekhusyu’an dan tadabburnya sama dalam kondisi membaca dan menghafal; ia boleh memilih membaca dari hafalan bila hal itu menambah kekhusyu’annya.

Di antara hal yang perlu diperhatikan di sini, hendaknya seorang pembaca, khususnya bagi siapa saja yang ingin menghafal, untuk memilih satu jenis cetakan saja sehingga hafalannya lebih kuat dan mantap.

Demikian pula, hendaknya ia menghormati mushaf dan tidak meletakkannya di tanah/lantai, tidak pula dengan cara melempar kepada pemiliknya bila ingin memberinya. Tidak boleh menyentuhnya kecuali ia seorang yang suci.

10. Membaca di tempat yang layak (kondusif) seperti di masjid sebab ia merupakan tempat paling afdhal di muka bumi, atau di satu tempat di rumah yang jauh dari penghalang, kesibukan dan suara-suara yang dapat mengganggu untuk melakukan tadabbur dan memahaminya. Karena itu, ia tidak seharusnya membacakan al-Qur’an di komunitas yang tidak menghormati al-Qur’an.

Wednesday, July 29, 2009

Mencari Kebenaran Adalah Wajib

Mencari kebenaran adalah wajibIa merupakan aset yang paling berharga di dua negaraDi negara yang sementara waktu dan negara yang kekal abadiKebenaran itu hanya satuTidak ada dua, tidak ada tiga dan seterusnya ...Kebenaran itu hanya yang datang dari Allah Taala yang menjadikan manusia. Kebenaran ialah kejayaan yang paling besar lagi agung. Ia merupakan kebahagiaan di dunia dan di Akhirat. Kebenaran itu satu jalan yang bersifat rohani dan maknawi. Tapi buahnya dapat dilihat di dalam kehidupan yang sangat indahCarilah kebenaran itu, jika dapat perjuangkanlah. Kalaulah kebenaran itu di atas gunung, dakilah. Jika di dalam laut, selamlah. Sekiranya di dalam bumi, galilah. Kalau didapati di dalam hutan, terokalah. Mencari kebenaran itu amat susah dan sulit. Memperjuangkan amat pahit tapi di hujungnya manis. Di dalam perjalanannya terseksa, tapi kesudahannya bahagia. Jika kebenaran sudah didapati pertahankanlah bermati-matian. Dengan harta, tenaga dan jiwa Peganglah kebenaran itu, jangan sampai terlepas sekalipun panas ....

Tuesday, July 28, 2009

Wasiat Utk Umat Islam Sedunia


Renungan Bersama


Pada satu malam ketika hamba membaca Al-Quran di Makam Rasulullah s.a.w. Selepas Hamba membaca lalu tertidur. Dalam tidur hamba bermimpi Rasulullah s.a.w mendatangi hamba lalu bersabda:


"Dalam 60,000 orang yang meninggal dunia di zaman ini, tiada seorang pun yang mati dalam keadaan beiman. Isteri tidak mendengar kata-kata suami, Orang kaya tidak lag berzakat dan tiada lagi berbuat kebajikan. Oleh itu wahai Syeikh Ahmad, hendaklah kamu sampaikan kepada orang-orang islam supaya membuat kebajikan kerana hari penghabisan akan tiba di mana semua bintang akan terbit dari langit, sesudah itu pintu langit akan ditutup. Tulisan dalam Al-Quran akan hilang dan matahari akan turun diatas kepala.:


Pesan hamba ini berselawatlah untuk junjungan kita Nabi Muhammad .s.a.w bertaubat dengan segera sementara pintu taubat masih terbuka.


Bersembahyanglah, jangan tinggalkan zakat, berpuasalah dan tunaikan fardhu haji jika mampu., jangan derhaka kepada ibu bapa.

Monday, July 27, 2009

Solat Menjana Ketenangan Dalam Kehidupan


  • Solatlah dengan menghayati segala isinya.
  • Merasakan solat yang dilakukan yang terakhir
  • Solat adalah ibadah yang utama
  • Tanpa solat kita gelisah
  • Solat merupakan kunci ibadah
  • Merasakan kelazatan solat adalah meletakkan hati kita dekat dgn Allah s.w.t
  • Bertemu raja segala raja
  • Menyempurnakan solat fardhu dgn solat2 sunatnya
  • Takut utk berbuat kemaksiatan
  • Menjadikan kita takut akan Allah s.w.t

HUKUM BERPURDAH



Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-AlbaniPertanyaan.Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Bagaimana hukum wanita menutup muka (purdah) ?”Jawapan.Kami tidak mengetahui ada seorangpun daripada shahabat yang mewajibkan hal itu. Tetapi lebih utama dan lebih mulia bagi wanita untuk menutup wajah. Adapun mewajibkan sesuatu wajib berdasarkan hukum yang jelas di dalam syari’at. Tidak boleh mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan Allah.Oleh kerana itu saya telah membuat satu bab khusus di dalam kitab ‘Hijabul Mar’aatul Muslimah’, untuk membantah orang yang menganggap bahawa menutup wajah wanita adalah bid’ah. Saya telah jelaskan bahawa hal ini (menutup wajah) adalah lebih utama bagi wanita.Hadits Ibnu Abbas menjelaskan bahawa wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam ‘Al-Mushannaf’.Pendapat kami adalah bahawa hal ini bukanlah hal yang baru. Para ulama dari kalangan ‘As Salafus Shalih’ dan para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir Ath-Thabari dan lain-lain mengatakan bahwa wajah bukan termasuk aurat tetapi menutupnya lebih utama.Sebahagian daripada mereka berdalil tentang wajibnya menutup wajah bagi wanita dengan kaedah.“Ertinya : Mencegah kerosakan didahulukan daripada mengambil kemanfaatan”Tanggapan saya.Memang kaeidah ini bukan bid’ah tetapi sesuatu yang berdasarkan syari’at. Sedangkan orang yang pertama menerima syari’at adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian orang-orang yang menerima syari’at ini daripada beliau adalah para shahabat. Para Shahabat tentu sudah memahami kaedah ini, walaupun mereka belum menyusunnya dengan tingkatan ilmu ushul feqh seperti di atas.Telah kami sebutkan dalam kitab ‘Hijaab Al-Mar’aatul Muslimah’ kisah seorang wanita ‘Khats’amiyyah’ yang dipandang oleh Fadhl bin ‘Abbas ketika Fadhl sedang dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘laihi wa sallam, dan wanita itupun melihatFadhl. Diaa adalah seorang yang tampan dan wanita itupun seorang yang cantik. Kecantikan wanita ini tidak mungkin boleh diketahui jika wanita itu menutup wajahnya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu memalingkanwajah Fadhl ke arah lain. Yang demikian ini menunjukkan bahawa wanita tadi membuka wajahnya.Sebahagian mereka mengatakan bahawa wanita tadi di dalam keadaan berihram, sehingga boleh baginya membuka wajah sedangkan tidak ada tanda-tanda sedikitpun bahawa wanita tadi sedang berihram. Dan saya telah mentarjih (menguatkan) dalam kitab tersebut bahawa wanita itu berada dalam keadaan setelah melempar jamrah, iaitu setelah ‘tahallul’ awal.Dan seandainya benar wanita tadi memang benar sedang berihram, mengapa Rasulullah tidak menerapkan kaedah di atas, iaitu kaedah mencegah kerosakan .?!Kemudian kami katakan bahawa pandangan seorang lelaki terhadap wajah wanita, tidak ada bezanya dengan pandangan seorang wanita terhadap wajah lelaki dari segi syari’at dan dari segi tabi’at manusia.Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.“Ertinya : Katakanlah kepada orang lelaki yang beriman. ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya” [An-Nuur : 30]Maksudnya daripada (memandang) wanita.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.“Ertinya : Dan katakanlah kepada wanita yang beriman. ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya” [An-Nuur : 31]Maksudnya iaitu jangan memandang seorang lelaki.Kedua ayat diatas mengandungi hukum yang sama. Ayat pertama memerintahkan menundukkan pandangan dari wajah wanita dan ayat kedua memerintahkan menundukkan pandangan dari wajah lelaki.Sebagaimana kita tahu pada ayat kedua tidak memerintahkan seorang lelaki untuk menutup (wajahnya). Demikian pula ayat pertama tidak memerintahkan seorang wanita untuk menutup wajah.Kedua ayat di atas secara jelas menyatakan bahawa di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada sesuatu yang biasa terbuka dan boleh dilihat iaitu wajah. Maka Allah, Si Pembuat syari’at dan Yang Maha Bijaksana memerintahkan kepada kedua jenis menusia (lelaki dan perempuan)untuk menundukkan pandangan masing-masing.Adapun hadits.“Ertinya : Wanita adalah aurat”Tidak berlaku secara mutlak. Karena tidak mungkin seseorang boleh menampakkanauratnya di dalam shalat.[1]Yang berpendapat bahawa wajah wanita itu aurat adalah minoriti ulama. Sedangkan yang berpendapat bahawa wajah bukan aurat adalah maajoriti ulama (Jumhur).Hadits diatas, yang berbunyi.“Ertinya : Wanita adalah aurat, jika dia keluar maka syaithan memperindahkannya”Tidak boleh diartikan secara mutlak. Ini kerana ada kaedah yang berbunyi :“Dalil umum yang mengandungi banyak cabang hukum, dimana cabang-cabang hukum itu tidak boleh diamalkan berdasarkan dalil umum tersebut, maka kita tidak boleh berhujah dengan dalil umum tersebut untuk menentukan cabang-cabang hukum tadi”.Misalnya : Orang-orang yang menganggap bahawa ‘bid’ah-bid’ah’ itu baik adalah berdasarkan dalil yang sifatnya umum. Contoh : Di negeri-negeri Islam seperti Mesir, Syria, Jordan dan lain-lain…. ramai orang yang membaca shalawatketika memulai adzan. Mereka melakukan ini berdasarkan dalil yang sangat umum iaitu firman Allah.“Ertinya : Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [Al-Ahzaab : 56]Dan dalil-dalil lain yang menjelaskan keutamaan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan dalil-dalil umum (yang tidak boleh dijadikan hujjah dalam adzan yang memakai shalawat, karena ia memerlukan dalil khusus, wallahu a’lam, -pent-).Mewajibkan wanita menutup wajah. Berdasarkan hadits : “Wanita adalah aurat”, adalah sama dengan keadaan di atas. Ini kerana wanita (Shahabiyah) ketika melaksanakan shalat mereka umumnya membuka wajah. Demikian pula ketika mereka pulang dari masjid, sebahagian mereka menutupi wajah, dan sebahagian yang lain masih membuka wajah.Oleh yang demikian hadits diatas (wanita adalah aurat), tidak termasuk wajah dan telapak tangan. Prinsip ini tidak pernah bertentangan dengan praktik orang-orang salaf (para shahabat).[Disalin dari kitab Majmu'ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, edisi IndonesiaFatwa-Fatwa AlBani, hal 150-154 Pustaka At-Tauhid. Maksud beliau adalah bahwa orang yang berpendapat tentang wajibnya menutupwajah bagi wanita pun bersepakat tentang bolehnya wanita membuka wajahnya, yangmenurut mereka adalah aurat, ketika shalat, maka hal ini menunjukkan bahwahadits di atas tidaklah berlaku secara mutlak.

adekah dunia simbol utama

kehidupan dunia yg tidak kekal, tapi ramai manusia cuba utk mencari dan merasai kehidupan dunia yg sebenar setakat hanya di dunia yg mane tidak akan membawa faedah diakhirat kelak, dunia sekadar pemangkin utk kita ke akhirat, di dunialahlah kite sepatutnye mencari pahala, utk mengejar syurga, dunia sekadar perjalanan utk ke akhirat, dunia tiada erti apa-apa pada kita, jika kita kejar dunia kita akan dpt dunia dan akhirat akan berjauhan dgn kita. jika kita kejar akhirat akan dekatnye akhirat dgn kita akan hilangnye rasa cinta kita pada dunia.

'Image
[url=http://img200.imageshack.us/i/useriluvislam.jpg/][img=http://img200.imageshack.us/img200/193/useriluvislam.jpg][/url]

Mutiara Kata

"Barang siapa yang tidak menjaga DIRINYA, maka tidak bergunalah ilmunya......"(Imam Ghazali)

"Kalau manusia ini mengejar kasih Allah, tidak akan timbul perselisihan dan perbalahan. Jika manusia sesama manusia, mengejar kasih manusia, itulah rahsia manusia itu bersaing dan
berbalah."


"...Kemudian apabila sampai ajal mereka, tiadalah dapat mereka meminta dikemudiankan sesaat pun dan tidak pula mereka dapat meminta
didahulukan." (AnNahl:61)


"Tiada masalah yang tidak boleh diselesaikan secara kebetulan atau suratan tetapi setiap masalah yang dicari mesti ada jalan tertentu bagi seseorang untuk menyelesaikannya melainkan diri sendiri yang menimbulkan masalah sendiri."

"....kadang-kadang dalam perjalanan merentasi menujunya yang satu, berbagai dugaan yang menimpa....meratah keimanan kita satu persatu....kekadang rasanya tak mampu.... kadang-kadang mahu beralah.....tapi di sana ada kebahgiaan hakiki...."

"Redha
Allah itu bergantung kepada redha kedua ibu bapa dan marah Allah juga bergantung kepada marah kedua ibu bapa ."


"Hiburan itu tidak mesti membahagiakan tapi kebahagiaan itu sudah pasti menghiburkan."

"Setiap manusia pernah merasai kejayaan dan juga kegagalan dan setiap kejayaan dan kegagalan yang dirasai oleh manusia mempunyai hikmah dan
pengajarannya yang tersembunyi disebaliknya."


" Ilmu mu yang manfaat,sedekah mu yang ikhlas dan orang yang soleh,itulah syarat yang dituntut di ALAM BAKA....
"





Gratisan Musik
Belajar Bahasa Arab Online
'iluvislam'

Berjamaahkan lebih afdhal

Berjamaahkan lebih afdhal
Kunci Kejayaan